be istiqomah

jadilah saja belukar yang teguh di tepi jurang...
Belukar itu senantiasa istiqomah dalam perjuangannya untuk hidup.
Ia belajar dari kesehariannya untuk mendewasakan batangnya,
batangnya yang menyanggahnya untuk tidak masuk ke dalam jurang...

Rabu, 31 Maret 2010

Hasan al-Banna Sang Pembangun

Jika suatu fatwa dinilai berdasarkan tempat, masa, dan ulama yang memberi fatwa, maka teori gerakan Islam Kontemporer juga harus berdasarkan pertimbangan tempat, masa, dan kapabilitas peletaknya. Jika tidak semua orang patut memberi fatwa, maka begitu juga dengan teori gerakan Islam Kontemporer, tidak semua orang yang layak memfatwakannya.

Namun, Hasan al-Banna datang sebagai pembangun (al-banna) pada zaman sekarang, tidak ada seorang pun manusia yang memiliki sejumlah sifat sebagaimana yang dimiliki Hasan Al-Banna. Semua harus dipahami secara aksiomatik. Bukan berarti hal ini peyematan kema’shuman kepada Hasan al-Banna, hal ini menyangkut factor waktu, tempat, dan tuntutan fase dakwah ketika itu. Tentunya, sikap seorang muslim berhak merombak bangunan dakwah yang didirikan Hasan al-Banna, sebagaimana Jama’ah berhak mengambil jarak dari cara pandang Hasan al-Banna. Sungguh manusia yang ma’shum itu hanya milik Rasulullah SAW.

Hasan al-Banna itu adalah sang pembangun (al-banna). Oleh karena itu, Sayyid Quthb telah menggali lebih dalam lagi ide-ide dasar yang dikemukakan oleh Hasan al-banna dan membentangkannya lebih luas. Nah, Yang harus dilakukan sekarang sebagai dai daiah, bagaimana menempatkan sesuatu pada proporsinya dan menjauhi sikap ekstrim yang meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, baik menyangkut suatu gagasan maupun pribadi tertentu.

Hasan al-Banna, dialah yang telah mengemukakan gagasan yang aplikatif dan dapat diterima oleh setiap muslim, dari awal sampai akhirnya. Yang memiliki fikrah yang syamil (komprehensif), yang memenuhi seluruh kebutuhan kita. Dia hadir di saat kaum muslimin dalam keadaan berjuang, namun strategi perjuangan yang dilakukan kaum muslimin menurut Hasan al-Banna memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu, dia hadir dengan gagasan yang dapat memenuhi kebutuhan masa kini dan dapat mengantarkan kepada kemenangan Islam secara total dengan izin Allah.

Bukankah kita telah lihat sahabat-sahabat Hasan al-Banna dan generasi penerusnya, mereka terus melanjutkan perjuangannya sekalipun harus berhadapan dengan tantangan yang berat. Bagi siapa yang mengamati realitas kaum muslimin sekarang, niscaya ia akan mendapati bahwa kapan pun dan di mana pun ide Hasan al-Banna hadir, di situ muncul dinamika Islam dan kaum muslimin.

Jika kita mengamati, maka Hasan al-Banna telah berhasil memadukan antara hokum-hukum syari’at dengan tuntutan zaman, antara cita-cita melangit seseorang muslim dengan pandangan realistis di lapangan, antara kesempurnaan tarbiyah dan ta’lim dengan tantanan dan aktivitas politik serta ekonomi, dan lain-lain hal yang memenuhi hajat kaum muslim dewasa ini.

Perbedaan tajam yang pernah terjadi antara fikrah Hasan al-Banna dan realitas di lapangan Ikhwanul Muslimin di beberapa wilayah menjadi factor penyebab timbulnya berbagai kegelisahan dan munculnya berbagai friksi di tubuh jamaah, pada suatu masa ketika itu. Hal ini, menunjukkan bahwa Hasan al-Banna adalah manusia masa kini yang tidak terhindar dari kekurangan-kekurangan, makanya kita sebagai dai-daiah sudah semestinya menyempurnakan kekurangan-kekurangannya yang disesuaikan dengan kondisi saat sekarang dan berjalan di bawah teori gerakan yang dicetusnya.

Salah satu pemikiran Hasan al-Banna yang berhubungan dengan tarbiyah : “Pendidikan dan pembinaan umat, memperjuangkan prinsip-prinsip nilai, dan pencapaian cita-cita sesungguhnya memerlukan partisipasi-partisipasi seluruh umat, atau paling tidak sekelompok dari mereka, yakni memperjuangkan tegaknya :

1. Kekuatan jiwa yang besar, yang dimanifestasikan dalam bentuk tekad yang kuat dan tegar

2. Kesetiaan yang utuh, bersih dari sikap lemah dan munafik

3. Pengorbanan yang suci, yang tidak diperdayakan oleh sifat tamak dan bakhil.

Selain itu, juga mengetahui, meyakini, dan menjunjung tinggi prinsip yang menjamin terpeliharanya diri dari kesalahan, penyelewengan, bujuk rayu, dan tipu daya”. Gerakan Islam modern mestilah mengikuti fikrah Hasan al-Banna, baik hanya di satu fase perjalanannya, di masa sebelum berdirinya Negara Islam, maupun sesudahnya, di politik dalam negeri maupun politik luar negerinya, dalam bidang tarbiyah, takwiniyah, maupun strategi perjuangan dan pergerakannya. Begitu juga dengan seorang pemimpin, jika pemimpin tidak segera mengambil warisan dari kepribadian Ustadz Hasan al-Banna dalam bidang ilmu, amal,kedalaman ma’rifatnya kepada Allah, tentu lebih utama jika mengambil warisan langsung dari Rasulullah SAW, maka kehancuran pasti akan terjadi di tubuh jamaah.

Hasan al-Banna telah mengambil tasawuf, lalu membersihkan “kotoronnya”, mengambil fikih, lalu membersihkan “kotorannya”, juga mengambil aqidah lalu membersihkan “kotorannya”, dan begitulah seterusnya. Sudah seharusnya yang dibutuhkan umat sekarang tersedianya asas Islam yang bersih.

Jika dalam jamaah Islam terdapat cacat dan kekurangan, sehingga para penganut berbagai aliran merasakan keunggulan dirinya dari jamaah maka ketika itu hancurlah jamaah. Bagi kita tidak ada pilihan lain, menguasai atau dikuasai. Jika kita menguasai, maka tidak ada yang dapat dilakukan kecuali kita harus memiliki kesempurnaan dalam berbagai bidadang di atas.

Dalam al-Qur’an, Musa berkata pada Fir’aun:

“Budi yang kamu limpahkan kepadaku itu adalah (disebabkan) kamu telah memperbudak Bani Israil.” (Asy-Syura: 22)

Maksudnya, apakah kamu menghendaki-Ku menjadikan Bani Israil sebagai hamba ?

Adakah ada pendirian lain yang lebih baik dari pendirian seperti Musa As dalam memperjuangkan nasib rakyat untuk menghadapi kaum tiran?

Kesempurnaan yang menyeluruh seperti itulah yang kita perlukan. Akan tetapi semuanya harus secara tulus dipersembahkan kepada Allah semata, bersama Allah, dan dengan kekuasaan Allah. Jika kita dapat memenuhi kesempurnaan kita, maka kita akan menjadi saksi bagi makhluk Allah dalam urusan agamanya juga saksi bagi seluruh kaum muslimin yang kita seru. Oleh karena itu, jalan kita satu-satunya untuk memperjuangkan ini semua adalah jalan yang dirintis dan ditempuh oleh Ustadz Hasan al-Banna….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar